Berbagai Perubahan Normal



     Pertambahan berat badan yang selama 2 tahun pertama maju pesat mulai melambat ketika usia anak melawati usia 2 tahun. Terjadi perubahan fisik anak dari tubuh bayi yang montok menjadi tubuh anak usia prasekolah yang lebih langsing.

     Meski kosakata putra dan putri Anda belum banyak, tapi kemampuannya memahami bahasa semakin meningkat. Penguasaan pasif dalam berbahasa ini yang kelak akan menjadi fondasi kekayaan penguasaan bahasa si anak yang muncul saat ia berusia 2 - 3 tahun. Pada usia 5 tahun kemampuan komunikasi anak sudah mencakup membaca dan menulis.

     Ketika anak mulai semakin aktif, masalah keamanan menjadi sangat penting. Anak usia prasekolah tak putus-putusnya bereksplorasi dengan mulutnya, sentuhan, merenggut serta memanjat, tanpa pernah memuaskan rasa ingin tahunya.

     Di usia 6 - 12 tahun, berat badan anak akan bertambah sekitar 3 kg per tahun dan tingginya meningkat sekitar 6,25 cm dalam setahun. Sedangkan perkembangan kepalanya menurun. Saat inilah otak anak hampir mencapai ukuran dewasa.

     Antara usia 6 - 12 tahun keterampilan motorik anak menjadi lebih halus. Pada masa ini, kemampuannya berlari, melompat, dan melempar senantiasa menunjukkan perkembangan yang konstan. Untuk meningkatkan proses penting ini, jangan berhenti mendorong anak untuk aktif secara fisik.

     Di rumah, Anda dan anak mungkin mulai suka menghitung perkembangannya pada grafik pertumbuhan. Dokter juga mengawasi tinggi badan dan berat badan anak. Pertumbuhan yang terlihat pada grafik pertumbuhan dapat memberikan bukti dini adanya gangguan yang serius. Misalnya saja, pada anak pengidap penyakit kronis, berat tubuh mereka biasanya akan tetap sama atau bahkan turun, begitu pula tinggi badan tidak bertambah sesuai standar yang diharapkan.

     Apabila Anda merasa anak terlalu pendek atau terlalu tinggi, tanyakan pada dokternya. Dokter kemungkinan akan memeriksa tangan dan pergelangan tangan anak dengan X-Ray untuk mengetahui normal tidaknya perkembangan tulangnya ditilik dari usianya (Bone Age). Dengan membandingkan pemeriksaan X-Ray dengan tabel standar, dokter dapat menentukan seberapa jauh usia tulang anak berkolasi dengan usianya yang sesungguhnya. Apabila usia tulang ketinggalan dari usia kronologis, biasanya anak akan mengejar ketinggalan tersebut. Namun, bila usia tulang mendahului usia kronologis, kemungkinan anak tersebut mengalami masalah pertumbuhan.

     Pola pertumbuhan anak perempuan usia sekolah dengan anak laki-laki seusianya jelas berbeda. Ada satu masa pada akhir usia sekolah di mana anak perempuan akan lebih tinggi dan lebih berat ketimbang anak laki-laki akibat laju pertumbuhan mereka yang terjadi terlebih dulu. Sebelum menginjak usia 9 tahun, rata-rata tinggi anak perempuan dan laki-laki hampir sama. Di usia 13, sebagian besar anak laki-laki akan lebih cepat tinggi dari pada anak perempuan. Hingga sekitar usia 9 tahun, berat badan anak perempuan cenderung lebih dibandingkan dengan anak laki-laki, sementara sesudah usia 14 tahun, biasanya anak perempuan menjadi lebih berat dari pada anak laki-laki di antara usia itu.

     Menjelang masa akhir usia sekolah, pertumbuhan anak bergerak dengan kecepatan drastis meskipun sangat bervariasi. Laju pertumbuhan praremaja ini merupakan bagian dari pubertas yang mentransformasi anak menjadi orang muda. Tahap-tahap pertama pubertas umumnya mulai sekitar usia 10 tahun pada anak perempuan dan usia 12 tahun pada anak laki-laki.

Related Posts:

Masa Pertumbuhan






     Berat badan bayi baru lahir rata-rata 2,5 - 4,5 kg dan panjangnya 45 - 55 cm. Dalam beberapa hari pertama setelah lahir bayi akan kehilangan 6 - 10 % berat badan lahirnya dan ini normal akibat hilangnya cairan.

     Saat berusia sebulan, berat badan bayi bisa meningkat ± 1,5 kg dari berat badan lahir dan lebih panjang 2,5 - 5 cm. Pada usia 4 - 5 bulan berat mencapai dua kali berat badan lahir, dan mencapai tiga kali lipat pada usia setahun. Panjang bayi bertambah sekitar 25 - 30 cm selama setahun tersebut. Lingkar kepalanya bertambah sekitar 10 - 12 cm.

Related Posts:

Persiapan Kehamilan



     Sebelum berniat hamil, sebaiknya temui dokter untuk membicarakan secara seksama riwayat kesehatan Anda dan lakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini penting karena banyak penyakit yang pada awalnya tanpa gejala tapi dapat memperumit kehamilan nantinya. Diabetes, Hipertensi, Tumor pada panggul, serta Anemia adalah sebagian kecil penyakit yang biasanya mudah terdeteksi bila melakukan General Check Up secara komprehensif.

     Bila dokter menemukan suatu masalah kesehatan, umumnya bukan berarti Anda tidak dapat memperoleh anak. Namun, Anda tentunya ingin masalah tersebut terkendali sebelum mencoba untuk hamil. Perempuan hamil dengan banyak penyakit kronis seperti Diabetes akan lebih baik bila ditangani seorang dokter ahli kandungan (Obstetrician) yang mengkhususkan diri dalam menangani kehamilan beresiko tinggi.

     Pemeriksaan fisik prakehamilan juga merupakan saat yang baik untuk bertanya atau membicarakan berbagai kecemasan Anda dengan dokter. Tentang penyakit tertentu atau kelainan genetik yang terdapat pada keluarga Anda. Atau kalau usia Anda sudah diatas 35 dan khawatir mendapat anak dengan Down Syndrome atau kelainan bawaan lainnya. Mungkin Anda sudah pernah hamil sebelumnya dan mengalami masalah, misalnya keguguran dan khawatir hal itu terulang. Pembicaraan terbuka dengan dokter akan memberikan informasi yang dapat membantu Anda mendapatkan bayi yang sehat.

     Saat pemeriksaan fisik sebelum kehamilan, dokter biasanya akan memberikan resep asam folat. Bilamana memungkinkan, Anda harus mengonsumsinya minimal 1 bulan sebelum pembuahan hingga 3 bulan pertama kehamilan. Asam folat terbukti mencegah terjadinya kelainan lahir pada masa awal pertumbuhan janin (Neural Tube Defects)

     Masa sebelum pembuahan juga merupakan saat yang baik  untuk menganalisis ulang gaya hidup Anda. Apabila berat badan lebih dan ingin menguranginya, lakukanlah sebelum hamil. Karena ketika sudah hamil bukanlah saat yang tepat untuk berdiet. Apabila anda seorang perokok, berhentilah merokok. Perempuan yang merokok sewaktu hamil cenderung melahirkan bayi yang lebih kecil dibandingkan dengan yang bukan perokok, dan bayi mereka biasanya mengalami masalah pertumbuhan. Selain itu, ibu yang merokok lebih cenderung mengalami keguguran dan bayinya meninggal saat lahir.

     Jangan minum alkohol atau obat terlarang selama hamil. Apabila Anda sedang menggunakan obat-obatan dari resep atau yang dijual bebas, tanyakan pada dokter apakah Anda boleh tetap mengonsumsinya sebelum mencoba untuk hamil.

Related Posts: